Title: Toko Buku Dasawarsa
Subtitle: Sebuah Catatan
Author: Cumbu Sigil
Publication: Arsip Catatan Muslihat
Publication Date: 2000
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

Koleksi buku-buku di Toko Buku Dasawarsa yang terletak di Taman Puring, begitu banyak bertambah. Kualitasnya memang terkadang tidak konsisten, tetapi yang pasti kuantitasnya bertambah.

Di setiap kunjungan, aku selalu mengingatkan diriku untuk membawa kamera poket, agar aku bisa menangkap pemandangan yang berlebihan ini. Lorongnya semakin lama semakin terasa sempit dan menyesakkan. Buku-buku bertumpahan dari dalam rak—tumpukan buku di atas tumpukan buku yang lain—membangun pilar dan barisan benteng yang tak stabil. Menyenggolnya, maka seluruh cakrawala ini akan seketika runtuh. Seorang kawanku berkata kepadaku, bagaimana kita bisa merasa seperti Tuhan di dalamnya… Saat dimana pergerakan kecil dapat berujung pada begitu banyak bencana… Dimana bersin terasa seperti angin topan.

Dari kunjungan siang ini, aku menyadari bahkan lorong sempit yang biasanya menjadi satu-satunya jalan masuk dan keluar bagi Pak Cakra, sang pemilik toko, kini sudah tertutup oleh tumpukan buku. Meskipun atap dari toko tersebut memang terbilang rendah, sehingga tidaklah begitu sulit bagi banyak orang untuk bermanuver (dengan hati-hati) di dalamnya, namun kini Pak Cakra musti melompat untuk bisa keluar masuk, dari dan ke, mejanya. Aku bahkan tidak bisa melihatnya saat ia sedang duduk di mejanya, terhalang oleh tumpukan buku. Ia terlihat seperti seorang neurotik yang komikal dimataku, yang membangun bunker atau penghalang agar dapat menghindari dirinya dari para pelanggan. Aku berkata kepadanya bahwa aku tak percaya akan tindakan diskriminasinya terhadap orang-orang gemuk. Maksudku, bagaimana bisa mereka berkunjung ke tempat seperti ini tanpa paling tidak menyenggol dan menjatuhkan tumpukan buku-buku yang ada? Jika hal ini terus terjadi, maka toko ini hanya akan dapat dikunjungi oleh orang-orang penderita anoreksia dan anak-anak kecil. Tumpukan-tumpukan buku tersebut kini juga telah menghalangi beberapa rak yang tersembunyi di belakangnya, yang telah menjadi bagian dari labirin… saat banyaknya justru adalah kuldesak.

Aku juga pernah berkata kepada Pak Cakra, bahwa meski ada berbagai macam bentuk ketidaknyamanan, aku menikmati proses membeli buku di toko miliknya itu; bagaimana aku tidak punya pilihan lain selain menyerahkan segalanya pada takdir, karena situasi tokonya yang sudah begitu keotik. Dan ada saat dimana aku merasa seakan ‘doaku terkabulkan’; contohnya saat aku datang ke toko itu, berharap untuk menemukan buku Craig Owens yang berjudul “Beyond Recognition”, yang terbilang sangat jarang (bahkan di retail toko buku terbesar), dan lalu menemukannya terselip diantara tumpukan pilar-pilar buku. Di lain waktu, aku menemukan buku “Wind-up Bird Chronicle” karya Murakami, yang kupikir tidak sepadan dengan usaha yang telah terbuang.

Ia bersikeras, mengatakan kepadaku bahwa ada tata cara dan aturan, lalu memberikan penjelasan metafisikal dan ‘obskurantis’ mengenai cara untuk ‘menemukan’ dan ‘tidak menemukan’ buku di dalam toko ini. Aku tidak begitu ingat detailnya.

Setelahnya, saat ia tampak tergesa-gesa membalik halaman-halaman dalam buku diksioner, ia mengatakan bagaimana mereka orang-orang dalam grup diskusi Buddhis nya (ya, Pak Cakra adalah seorang Zen Buddhis, sulit dipercaya memang, melihat kondisi tokonya yang jauh dari kesan harmonis) gagal untuk sepenuhnya meresapi ide yang ia coba untuk aplikasikan, untuk menghubungkan nosi Kantian dengan Buddhisme. Ia berkata, saat mereka para Buddhis, menurut ajaran Buddha, seharusnya ‘tidak terkondisi’, mereka justru malah amat terkondisi oleh ide untuk ‘tidak terkondisi’ tersebut. Dan ia menutup perkataannya dengan mengkuotasi Thoreau menyangkut perihal takhayul. Selanjutnya, ia mengganti, atau lebih tepatnya, percakapan kami perlahan berubah ke topik yang berbeda: metode pembacaan kata-kata dasar (linguistik) yang membuatnya tertarik belakangan ini. Aku memberinya observasi intuitif yang belakangan juga sedang kupikirkan, seperti dua kata dalam bahasa Inggris, ‘respond’ dan ‘responsibility’. Yang notabene dua-duanya mempunyai implikasi yang sama: sama-sama membutuhkan pengakuan dari orang lain. Perbedaannya hanya dalam masalah etika dan pola interaksi.

Dua pasang kata yang lain yaitu ‘passion’ (yang pada level-level tertentu membutuhkan keterlibatan aktif, passion seorang pemusik misalnya, yang memaksanya untuk menciptakan lagu) dan ‘passive’. Persamaan dari kedua kata tersebut ditentukan oleh bagaimana seseorang menyerah kepada kehendak-kehendak umum, kekuatan yang bersifat ekstrinsik, dikte dari konfigurasi genetik seseorang, kehendak dalam makna Schopenhauerian. Menyerah kepada hasrat, gairah, dan rayuan yang ditujukan kepada kita, justru membuat kita menjadi pelaku pasif, sebanyak apapun aktivitas fisik yang dibutuhkan karenanya: bentuk kepasifan yang berkaitan dengan hasrat seseorang. Hipotesa ku ini membuat Pak Cakra cukup tertarik sampai-sampai ia berjanji akan memberikan pandangannya mengenai kata-kata tersebut di kunjunganku yang berikutnya.

Aku telah menentukan buku mana yang akan kubeli, dari kelima buku yang kupegang, disesuaikan dengan isi dompetku yang tidak seberapa. Dan aku kembali ke tempat ku bekerja.