Kolektif Kontra-Kultura
Apa Bagusnya Zine?
Sebuah Manifesto Kolektif Kontra-Kultura Mengenai Zine
Seorang penyair bernama Eduardo Galeano pernah menulis sesuatu tentang utopia,
“Dia berada di horizon ... saya berjalan dua langkah, dia bergerak dua langkah menjauh. Saya berjalan sepuluh langkah dan horizon berlari sepuluh langkah menjauh. Tak peduli berapa banyak langkah yang saya ambil, saya tak akan pernah bisa meraihnya. Apa bagusnya utopia kalau begitu? Itu dia: bagus untuk dijalani.”
Ada beberapa hal yang harus diwujudkan, sesuatu yang ideal tentang bagaimana sesuatu dapat terjadi, kalau saja orang-orang memiliki keberanian menembus batas, melampaui batas-batas yang aman, menembus rutinitas dan artian-artian baku yang eksis saat ini. Tetapi, sebagaimana pengertian Galeano bahwa utopia adalah kebohongan—walaupun merupakan sesuatu yang penting. Kebohongan ini membuat orang-orang untuk berjalan ke depan, untuk berimajinasi tentang sesuatu yang berbeda, walaupun kenyataan saat ini sama sekali tidak memberi ruang pada suatu alternatif. Utopia adalah sesuatu yang bagus untuk dijalani.
Zine juga, adalah sesuatu yang juga bagus hanya saat dijalani. Di sebuah alur jalan dimana zine ternyata juga hanya merupakan sebuah kebohongan, dimana zine menjanjikan sebuah mimpi melawan alienasi, sesuatu yang ternyata tak dapat direalisasikan olehnya di luar batas konteks dan kerangka subkulturalnya, tapi tetap saja, zine memang bagus hanya untuk dijalani. Telah begitu lama saat para pembuat zine melakukan pencarian terhadap sesuatu yang tak pernah dapat mereka temukan—tak akan pernah dapat dalam masyarakat tontonan yang luas ini. Pencarian yang tak tampak untuk sesuatu yang otentik adalah sebuah proyek gagal. Tapi tanpa perjuangan yang seakan tak menghasilkan apapun seperti ini, mereka akan menyerah pada sesuatu yang lebih buruk—tirani saat ini. Zine dan subkultur-subkultur yang tak terlihat, memang sudah sejak awalnya tampil berupa kebohongan yang memberi arah dan makna, solidaritas serta sebuah sensasi kebebasan (kebebasan memang sebuah sensasi, dan itu kenyataannya). Dalam melawan dunia yang menekan kita untuk tetap stagnan, zine justru membantu kita untuk maju ke depan.
Zine, dengan segala keterbatasannya dan kontradiksinya, menawarkan sesuatu yang penting pada orang-orang yang membuat dan menikmatinya: sebuahtempat untuk dijalani. Dalam bayang-bayang kultur dominan, zine dan subkultur yang tak terlihat ini telah menandai sebuah ruang bebas: sebuah ruang dimana imajinasi dan eksperimen, yang memiliki cara baru dan sangat idealistis dalam cara berpikir, berkomunikasi, bereaksi serta menjadi ada. Atau seperti yang oleh Hakim Bey, seorang teoris anarkis dan zinester, disebut sebagai sebuah strategi dari TAZ atau Zona Otonomi Temporer. Bey menerangkan bahwa: “kekuatan terbesarnya terletak pada ketidaktampakkannya—negara tak dapat menemukannya karena sejarah tidak memiliki definisi untuk hal ini”. Ideal dari subkultur yang tak terlihat in—sebagai sesuatu yang otentik—menawarkan sebuah tantangan pada masyarakat modern. Dan subkultur ini menciptakan sebuah zona otonomi temporer untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk novel mengenai produksi dan organisasi sosial. Praksisnya, seperti sebuah kultur yang dapat menembus batas aalienasi produksi serta memiliki jaringan komunitas ini, dapat menjadi indikator tentang arah mana yang akan diambil oleh masyarakat masa depan, atau tentang idealnya sebuah utopia sesuai dengan apa yang telah tergariskan. Tanpa parade kekuatan, partisipasi dalam subkultur zine bersifat menyenangkan. Ditanyakan tentang alasan mempublikasi zine, Karen Eliot dari zine “Senyum Palsu” mengatakan: “Untuk mengubah dunia. Mungkin memang nggak akan berhasil, tapi adalah suatu kesenangan saat mencobanya”.
Zine, dalam isinya, bentuknya, dan pengorganisasiannya, mengkonstitusikan sebuah alternatif yang ideal tentang bagaimana hubungan antar manusia, kreasi dan produksinya dapat terorganisir dengan baik. Kritisnya, kekuatannya terletak bukan pada apa yang mereka katakan atau lakukan, tapi dalam keberadaan zine itu sendiri—the medium is the message. Zine adalah politik yang mengatakan sesuatu dengan memberi contoh. Walaupun dalam level politis makro hal ini seakan tak memberi efek apapun, dalam level mikro justru mendemonstrasikan pada siapapun yang mendapatkannya bahwa hal tersebut adalah sebuah resistansi.
Setelah kejatuhan Komune Paris di tahun 1871, dan setahun sebelum kematiannya, anarkis Mikhail Bakunin mengutarakan bahwa revolusi telah gagal. “Ya, kamu benar,” tulisnya pada seorang kawannya, “revolusi untuk sementara waktu telah kembali ke tempat tidurnya, kita terjatuh kembali pada sebuah periode evolusi, yang dapat dikatakan bahwa salah satu revolusi bawah tanah, tidaklah mengesankan sama sekali”. Walaupun dalam pesimisme Bakunin, sebenarnya terletak optimisme. Saat gelombang besar revolusi terlihat stagnan, dia tetap menyimpan harapan bahwa semangat revolusinya tidak akan pernah padam.
Zine memang bukan sebuah revolusi, tapi itulah yang disebut oleh Bakunin sebagai: “revolusi bawah tanah (yang) tidaklah mengesankan sama sekali,” dan dalam ketidak terlihatan ini terletak sebuah impian utopia dan sebuah harapan radikal. Seperti apa yang dikatakan oleh Tad Hirsch sebagai berikut:
“Pada intinya, zine adalah tentang ekspresi dan komunikasi. Dalam masyarakat dimana kedua hal tersebut tidak eksis, mendorong, membuat dan mempublikasikan zine telah merepresentasikan sebuah aksi revolusioner. Jam-jam panjang yang dihabiskan untuk menulis, menggambar, melay-out, dll. adalah jam-jam yang tak digunakan untuk sekedar dihabiskan di depan layar televisi, dihabiskan untuk konsumerisme, atau untuk berbagai hal lainnya yang sering digunakan untuk membunuh waktu luang oleh sebagian besaar masyarakat—kita.— Aksi yang — mengusahakan pendistribusian zine, merepresentasikan sebuah hasrat untuk meraih individu lain, untuk berbagi ide dan mendapatkan tanggapan. Dengan kata lain, hal itu merupakan langkah pertama dalam memapankan interaksi manusia yang otentik, sebagai sebuah oposisi terhadap basa-basi orang-orang di cafe, market atau saat berpapasan di jalanan. Saat zine dapat menjadi pelayanan bagi kepentingan pribadi, dan kadang tampak bodoh, zine juga dapat membuat berpikir keras, memainkan emosi dan mendorong respon. Zine dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas yang kreatif, terbuka dalam diskusi, tanpa intervensi institusi legal”.
Kami setuju dengan Ted pada keseluruhannya, tapi pada satu point: ocehannya adalah harapan dan janji tentang politik dari zine dan subkultur yang tak terlihat pada titiknya yang paling tinggi. Hal inilah yang membuat kita semua tetap menjalaninya.
Terdapat sesuatu tentang materialisasi zine—kita dapat merasakannya, menyelipkannya di tas, membacanya di bis kota, memberikannya si even-even massa—apapun bentuknya. Hal itu juga tidak penting. Tak peduli apa media penyampaiannya, selama media massa masih eksis, maka begitu juga dengan komunitas mikro, selama pasar masih menentukan nilai-nilai hidup, maka begitu juga dengan komunikasi yang tak tak terlihat yang berlandaskan rasa cinta dan kemarahan, dan selama sistem ini tetap seperti ini, maka akan eksis teruslah catatan-catatan gelap dan anonimus dimana-mana.
***
Hal-hal tersebut di ataslah yang membuat kami secara kolektif mempublikasikan, mengkopi-ulang, mendistribusikan zine dalam berbagai bentuknya. Walau demikian, kami masih membutuhkan dan mencari zine-zine yang terlupakan, tersisihkan, membutuhkan distribusi, untuk memperkuat imajinasi kita, untuk membuat kita tetap menjalani jalan ini. Kami terbuka bagi komunikasi apapun, dan untuk mendapatkan katalog kami yang berisi lebih dari 100 judul zine, pamflet dan berbagai media tulisan lainnya, silakan kontak kami. Dan bagi yang ingin bantuan dalam distribusi, tangan kami selalu terbuka. Demi imajinasi kita, demi utopia yang kita dambakan bersama, berkomunikasilah ...