Perpustakaan Jalanan Bandung & Dodo
Perpustakaan Jalanan
1. Tumbuh & Bersemi di Jalanan
1.1 Menyemai Api, Melampaui Mimpi
1.3 Ketika Represi Datang, Solidaritas Menguat
1.4 Solidaritas Menyebar Serupa Dandelion
2. Manifesto Perpustakaan Jalanan “Merawat Ruang Bersama, Menegaskan Perlawanan!”
1. Tumbuh & Bersemi di Jalanan
BERANGKAT dari ketertarikan dan semangat yang sama yakni hal ihwal perbukuan, kami mulai berkumpul membawa koleksi buku masing-masing di tahun 2010. Di bawah terang lampu taman Cikapayang, Bandung, koleksi buku tersebut kami susun dan letakan di atas kain lusuh dan spanduk bekas sebagai alas. Di tempat itulah, di antara buku-buku yang saling berendeng dan berdampingan, berbagai wacana juga ide-ide berlalu-lalang dalam diskusi-diskusi kecil kami.
Tak jarang topik tiba-tiba berbelok ke arah obrolan tentang hidup dan hal-hal yang kami lalui setiap hari, pekerjaan, sekolah, asmara dan lain-lain. Ruang yang kami bangun, rupanya melampaui apa yang kami rencanakan sebelumnya. Alih-alih jadi ruang yang ekslusif di mana para kutu buku menclok, ruang yang kami bangun justru jadi ruang di mana orang-orang dapat berinteraksi dan bertukar cerita. Mendobrak batas-batas yang lahir dari kehidupan yang memisahkan kita jadi individu-individu yang terasing dan teralienasi.
Negara boleh saja bilang kalau mereka telah memfasilitasi itu semua. Membangun taman-taman dan melabelinya dengan ruang publik yang dapat diakses siapa saja secara cuma-cuma. Orang-orang dari berbagai latar belakang dan berbagai tujuan memang datang kapanpun mereka mau, sekedar rekreasi atau sekedar mampir sebelum berpindah ke tempat lain. Tapi tetap saja, orang-orang berjarak dengan satu sama lainnya. Tenggelam dalam urusan dan persoalan masing-masing yang mereka pikul sendiri atau bahkan bersaing satu sama lain, demi meniti karir atau bertahan hidup hari ke hari. Jika semua orang tetap terasing di ruang publik, apa yang membedakannya dengan ruang privat?
Itulah kenapa kami memilih taman sebagai tempat berkumpul dan berkegiatan. Jika taman yang dibangun oleh pemerintah menciptakan ruang-ruang di mana orang-orang tetap terjebak dalam labirin persoalan di hidupnya. Kami ingin mengembalikannya menjadi ruang di mana interaksi dan komunikasi itu terjadi, melampaui batas-batas yang selama ini mengisoliasi kami dan menjadikan kami sebagai individu yang terasing dan teralienasi.
Di ruang yang kami bangun ini, semua orang boleh datang, berkenalan dan menyapa kami. Baik dengan tujuan untuk sekedar membaca, ngobrol atau hanya mampir sejenak. Dengan berkenalan, kita mengenal satu sama lain dan terbebas dari prasangka dan pikiran buruk terhadap orang lain.
Sebab, bagaimanapun, kompetisi yang dibidani oleh sistem kapitalistik ini telah menjadikan kita individu-individu yang penuh kecurigaan satu sama lain. Di mana-mana, di sekolah, di tempat kerja dan di lingkungan tetangga, tak jarang perasaan resah dan terancam gagal dalam kompetisi di hidup ini hinggap di kepala kita. Hingga pada akhirnya hubungan dan kepedulian terhadap orang lain dibingkai sebagai hal-hal yang kontraproduktif dalam relasi yang transaksionis dan ekonomis.
Untuk itulah, perpustakaan yang hendak kami bangun hendak menegasikan itu semua. Dengan menciptakan ruang di mana semua orang dapat datang dan terlibat, kami berharap ruang yang kami ciptakan ini bisa membangun relasi baru melampaui relasi transaksional ekonomi yang selama ini menciptakan jarak di antara kita. Inilah perpustakaan versi kami, inilah Perpustakaan Jalanan Bandung, tempat kami tumbuh dan bersemi.
1.1 Menyemai Api, Melampaui Mimpi
Apa yang kami bicarakan sebelumnya tentang ruang dan relasi hanya akan menjadi sebatas mimpi tanpa pernah kami raih, jika tak ada praktik nyata. Sejak kami berkumpul di tahun 2010, kami lantas menginisiasi berbagai inisiatif kolektif dengan semangat kemandirian dan persahabatan.
Orang-orang mungkin akan melabeli kami sebagai aktivis, kiri, komunis, anarkis atau apa pun, tapi kami tak peduli. Buku-buku, zine-zine dan diskusi-diskusi yang kami jalani telah membuat kami mengerti bahwa di mana-mana orang-orang diperlakukan tidak adil.
Pada tahun 2010-2013, kegiatan kami di luar lapak buku sering berupa diskusi buku, aksi solidaritas terhadap korban penggusuran, dan dukungan terhadap petani yang mengalami kriminalisasi. Di akhir tahun 2013, kami mulai terlibat secara aktif dengan gerakan politik yang lebih luas. Bukan berarti aktivitas sebelumnya tidak politis, namun kini beberapa individu di antara kami mulai aktif dalam gerakan politik yang lebih terorganisir.
Salah satu momen penting adalah ketika kami terlibat dalam aksi penolakan pertemuan WTO di Bali. Setelah itu, kami semakin aktif dalam konsolidasi gerakan politik dan meningkatkan aksi solidaritas terhadap kelompok-kelompok yang tertindas dan komunitas yang terancam penggusuran. Kami merasakan perubahan signifikan dalam Perpustakaan Jalanan Bandung sendiri. Lapak buku kami semakin ramai, orang-orang dari berbagai latar belakang mulai berdatangan. Bahkan setelah kami terlibat dengan gerakan politik yang lebih luas, orang-orang yang mungkin dilabeli sebagai "aktivis" pun mulai bergabung dalam diskusi-diskusi kami. Sejak awal, kegiatan kami merupakan inisiatif pemuda kota yang bersifat inklusif—tidak sembunyi-sembunyi namun juga tidak terlalu formal.
Kami menciptakan ruang yang memungkinkan siapa saja untuk datang, entah untuk membaca buku atau berdiskusi tentang isu-isu yang terjadi di wilayah mereka masing-masing. Tahun 2013 menjadi titik balik bagi kami. Kegiatan kami menjadi semakin beragam dan intens. Kami mulai rutin mengadakan galeri jalanan, pemutaran film, dan pameran karya seni mingguan. Perubahan ini menjadi sumber semangat baru. Kami semakin sering berpartisipasi dalam aksi-aksi solidaritas dan mulai membangun jejaring dengan perpustakaan jalanan lain di berbagai kota.
Tahun 2016 menjadi momen yang tak terlupakan. Untuk pertama kalinya, kami merayakan ulang tahun Perpustakaan Jalanan Bandung dengan mengokupasi seluruh area taman. Selain lapak buku yang menjadi agenda utama, kami mengubah taman menjadi ruang yang penuh kegembiraan dan kenyamanan—tempat di mana orang-orang tidak merasa sendirian. Antusiasme pengunjung membuktikan bahwa ruang publik seharusnya hidup, dinamis, dan menjadi tempat bersosialisasi yang bebas dari logika transaksional. Kami mengadakan berbagai acara seperti malam puisi, galeri jalanan, pertunjukan musik akustik, sesi menggambar bersama, dan lapak gratis. Seluruh taman kami hias sesuai imajinasi kami, melampaui batasan-batasan konvensional yang sering mengekang kreativitas.
1.3 Ketika Represi Datang, Solidaritas Menguat
Tahun 2016 juga menjadi tahun yang penuh tantangan bagi kami. Di tahun yang sama dengan perayaan ulang tahun kami, Perpustakaan Jalanan Bandung mengalami tindakan pembubaran paksa yang dilakukan oleh aparat TNI. Beberapa minggu sebelum pembubaran, situasi di Bandung menjadi tegang akibat insiden penusukan yang melibatkan anggota TNI. Fokus aparat keamanan saat itu tertuju pada komunitas klub motor yang sering berkumpul di akhir pekan. Suasana malam di Bandung menjadi mencekam, mengingatkan pada era Orde Baru dengan pemberlakuan jam malam. Meski awalnya kegiatan kami tidak dibubarkan, situasi berubah secara mendadak. Tanpa peringatan, salah satu anggota aparat—berpakaian preman—tiba-tiba melakukan tindak kekerasan terhadap salah satu anggota kami dan memerintahkan pembubaran. Kami berusaha berdialog, namun sia-sia. Dalam waktu singkat, satu kompi pasukan Kodam TNI mengepung kami, memberikan ultimatum sepuluh menit untuk membubarkan diri.
Hingga kini, alasan sebenarnya di balik pembubaran paksa tersebut masih belum jelas. Meski ada pernyataan pers yang menyebut kegiatan kami sebagai "kedok", tuduhan tersebut tidak pernah bisa dibuktikan. Namun, di tengah situasi yang menekan ini, kami menemukan kekuatan baru.
1.4 Solidaritas Menyebar Serupa Dandelion
Satu minggu setelah pembubaran paksa, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan kegiatan rutin kami. Apa yang kami saksikan sungguh mengharukan: solidaritas mengalir deras dari berbagai penjuru. Taman Cikapayang dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk menunjukkan dukungan mereka.
Lebih dari itu, peristiwa ini justru memicu gelombang inspirasi. Banyak kelompok danindividu mulai menghubungi kami, tertarik untuk mendirikan perpustakaan jalanan di kota mereka masing-masing. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana memulai dan mengelola perpustakaan jalanan.
Kami menyambut antusiasme ini dengan tangan terbuka. Bagi kami, ini adalah bukti bahwa semangat literasi dan solidaritas masih berkobar di hati banyak orang. Kami percaya bahwa perpustakaan bisa diciptakan di mana saja—tidak harus di ruang-ruang formal yang kaku dan sunyi.
Dalam merespons minat ini, kami selalu menekankan kebebasan berekspresi. Kami tidak pernah menganggap Perpustakaan Jalanan Bandung sebagai "pusat" atau perpustakaan jalanan lain sebagai "cabang". Sebaliknya, kami mendorong setiap kelompok untuk mengembangkan identitas dan cara kerja mereka sendiri.
Kami dengan senang hati membagikan pengalaman, sumber daya, dan bahkan materi seperti logo, buku-buku, dan zine. Namun, kami juga mendorong mereka untuk bebas mengadaptasi, mengubah, dan mengembangkan segala sesuatu sesuai konteks lokal mereka. Penyebaran gagasan perpustakaan jalanan ini mengingatkan kami pada bunga dandelion.
Ketika tertiup angin, benih-benihnya menyebar ke berbagai arah, tumbuh di tempat-tempat yang tak terduga. Begitu pula dengan solidaritas dan semangat literasi yang kami semai—kini tumbuh dan berkembang di berbagai sudut kota, menciptakan ruang-ruang baru untuk belajar, berbagi, dan membangun komunitas.
Melalui pengalaman ini, kami semakin yakin bahwa pengetahuan dan solidaritas adalah kekuatan yang tak terbendung. Meski menghadapi tantangan dan tekanan, spirit Perpustakaan Jalanan terus hidup, beradaptasi, dan menginspirasi generasi baru pegiat literasi dan aktivis sosial di seluruh Indonesia.
2. Manifesto Perpustakaan Jalanan “Merawat Ruang Bersama, Menegaskan Perlawanan!”
Perpustakaan Jalanan, terbentuk sebagai ruang otonom yang menekankan pentingnya pendudukan ruang publik sebagai milik bersama, bukan alat kekuasaan segelintir elit atau korporasi. Di tengah semakin memburuknya realitas ekonomi-politik Indonesia, kami hampir satu dekade lalu memilih jalan perlawanan dengan menduduki ruang-ruang ini, menghadirkannya kembali sebagai tempat belajar, berbagi, dan menyemai kesadaran kritis dari bawah ke atas. Kami menolak diam di tengah represi, eksploitasi, dan ketidakadilan yang mengancam kehidupan sehari-hari rakyat.
Perpustakaan Jalanan bukanlah tentang proyek mencerdaskan bangsa—ini bukan tentang memposisikan diri kami sebagai pendidik atau penyelamat yang berusaha meningkatkan kemampuan intelektual rakyat. Ini adalah tentang perebutan ruang. Kami hadir untuk mendefinisikan kembali ruang publik sebagai tempat yang bebas dari cengkeraman kuasa negara, kapitalisme, dan kekuatan militer. Ini adalah ruang di mana kita bisa berkumpul tanpa pengawasan, tanpa rasa takut, dan tanpa batasan. Dalam ruang ini, kita menciptakan kesempatan untuk belajar dari satu sama lain, berbagi realitas yang kita hadapi, dan menyusun strategi perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan yang berusaha mencabut hak kita atas kota dan kehidupan yang adil.
Kami menolak gagasan paternalistik bahwa rakyat perlu "dicerdaskan" oleh otoritas tertentu. Sebaliknya, kami percaya bahwa rakyat memiliki potensi untuk membangun kesadaran kritis mereka sendiri melalui solidaritas dan pengalaman bersama. Oleh sebab itu Perpustakaan Jalanan menjadi penting untuk menyadari bahwa perebutan ruang adalah bagian dari perebutan hak hidup dan kebebasan dari penindasan ekonomi-politik kapitalistik dan otoritarianisme yang semakin mencengkeram. Ruang ini adalah perlawanan nyata yang berlandaskan prinsip-prinsip dasar berikut:
(1) Anti Fasis: kami melawan segala bentuk fasisme yang mencengkram ruang-ruang publik dan membatasi kebebasan berekspresi, serta segala praktik kekerasan negara dan dominasi satu kelompok atas yang lain.
(2) Anti Rasis: rami menentang segala bentuk diskriminasi rasial, memperjuangkan persamaan hak, dan menghargai keragaman sebagai fondasi kebersamaan yang sejati.
(3) Anti Seksis: kami melawan seksisme dalam segala bentuknya, baik yang dilakukan oleh individu maupun sistem yang mempertahankan kondisi ini. Kami memperjuangkan kesetaraan gender dan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa batasan normatif.
(4) Inklusif: Kami membuka ruang bagi semua orang tanpa memandang latar belakang perbedaan spektrum ideologi anti-kapitalis, identitas, gender, atau perbedaan lainnya, dengan semangat gotong royong dan persatuan dalam perlawanan.
(5) Anti Militerisme: rami menentang dominasi kekuatan militer di ruang sipil dan berjuang melawan segala bentuk represi yang dilakukan oleh aparatus negara yang bersenjata, karena sejatinya militer harus tetap berdiam diri di barak!.
(6) Otonom: kami percaya pada kemandirian dalam mengelola ruang dan aktivitas tanpa intervensi dari otoritas kekuasaan negara. Kami membangun jaringan solidaritas secara mandiri, berdasarkan partisipasi sukarela dan kesetaraan.
(7) Anti Otoritarian: kami menolak segala bentuk otoritarianisme, baik yang berasal dari negara, korporasi, atau lembaga lainnya yang bertujuan untuk mengontrol dan menguasai kehidupan rakyat.
Kami berkeyakinan bahwa perjuangan ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menciptakan dunia yang lebih adil, setara, dan bebas dari penindasan - yang tumbuh dari bawah ke atas untuk kepentingan rakyat dibawah demokrasi sejati, bukan demokrasi kotak suara. Perpustakaan Jalanan hadir sebagai ruang perlawanan yang tidak hanya fisik, tetapi juga ideologis. Melalui perebutan ruang ini, kami berharap front ini terus menyebar dan di inisiasi oleh siapapun untuk memperkuat kesadaran politik rakyat dan memperjuangkan hak atas ruang dan kebebasan.
Mari terus memperluas ruang publik sebagai tempat belajar, berkumpul, dan berjuang bersama!
3. Memahami Apa Itu Perpustakaan Jalanan
(oleh Dodo)
Anti Seksis, Anti Fasis, Anti Rasis, Anti Militerisme, Anti Otoritarian, Inklusif dan Otonom. Prinsip-prinsip itu adalah prinsip yang dianut oleh para komponen penggerak Perpustakaan Jalanan sejak pertama kali muncul di tahun tahun 2010. Dengan berbekal solidaritas, Perpustakaan Jalanan mengumpulkan buku-buku dengan, berbagai genre, dimulai dari koleksi pribadi dan juga kiriman berbagai teman yang peduli akan keberlanjutan budaya literasi Kota.
Motivasi utama berjalannya aktivitas Perpustakaan Jalanan untuk menyediakan akses membaca bagi masyarakat luas tanpa adanya sekat-sekat birokrasi dan administrasi. Hematnya, Perpustakaan Jalanan memindahkan seluruh buku yang ada di ruangan ke jalanan. Para pembaca bisa datang ke lokasi untuk membaca, berdiskusi atau sekedar melepas penat sembari memperhatikan kondisi Kota Bandung yang semakin hari semakin sesak dengan kendaraan bermotor dan bangunan-bangunan bermasalah.
Selain itu Perpustakaan Jalanan juga percaya bahwa membaca sejatinya adalah bentuk perlawanan yang paling kuat. Dengan membaca kita semua menjadi paham tentang kedudukan luhur seorang manusia, kita paham tentang struktur kelas sosial manusia, kita paham tentang ketidakadilan yang akhir-akhir ini dapat menjelma lewat berbagai bentuk, kita paham bahwa hak adalah sesuatu yang harus diraih, bukan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Hal itu sejalan dengan prinsip Perpustakaan Jalanan dan dengan demikian membaca—bagi Perpustakaan Jalanan—adalah melawan.
Kegiatan yang Perpustakaan Jalanan Bandung lakukan tentunya bukanlah barang baru. Jauh sebelum Perpustakaan Jalanan beroperasi, para pejuang kemerdekaan rata-rata adalah kaum bangsawan yang terpelajar telah membuktikan bahwa pada akhirnya, kemerdekaan diraih melalui jalur-jalur intelektual, bukan berdasar pada kekerasan. Lebih jauh lagi dari masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, orang-orang di Amerika telah membuktikannya terlebih dahulu dengan kesuksesannya menumbangkan hegemoni Inggris terhadap tanah kelahirannya melalui Revolusi Amerika pada kurun waktu 1775-1783. Terkuak sebuah fakta di kemudian hari yang menyebutkan bahwa pada era revolusi tersebut, tingkat literasi di Amerika berada di angka 95% dari total penduduk. Dalam kurun waktu itu pula mulai terbenuk berbagai lembaga penerbitan buku dan debat publik yang diselenggarakan secara rutin. Dengan kondisi demikian, mereka (pejuang Indonesia dan pejuang Amerika) dapat bersaing secara intelektual dengan para kolonial (Belanda di Indonesia dan Inggris di Amerika) dan menjadi berani untuk menyuarakan pendapatnya.
3.1 “Matikan Ponsel, Mulailah Membaca!”
Revolusi Amerika pun pada akhirnya juga memotivasi rakyat Perancis untuk melakukan hal serupa, terhadap kondisi negaranya yang kian rusak digerogoti oleh kelakuan keluarga kerajaan pada masa itu yang terjadi pada kurun waktu 1789-1799. Dari Asia Timur, kita juga dapat melihat bagaimana Jepang bisa menjadi kekuatan besar pertama Asia sekaligus menjadi negara Asia pertama yang mengalahkan Rusia sebagai kekuatan Eropa pada tahun 1904-1905 di Manchuria. Semua berawal dari diskursus intelektual yang membuat masyarakatnya sadar akan haknya, dan memiliki kepercayaan diri sebagai bangsa.
Pergulatan pemenuhan hak perempuan juga dialami oleh kaum perempuan yang sebelumnya dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Melalui diskursus intelektual (membaca), kaum perempuan menjadi sadar akan haknya sehingga bisa bersaing secara intelektual dengan kaum Patriarki dan akhirnya bisa melakukan berbagai perlawanan yang telah berlangsung lewat beberapa arus pemikiran dengan macam-macam tuntutannya; hak untuk memilih dalam Pemilu, hak untuk diperlakukan setara dan hak untuk memilih jalan hidupnya secara mandiri.
Perpustakaan Jalanan berpendapat bahwa pembahasan tentang penting dan kuatnya daya “rusak” yang bisa dibuat oleh seseorang akibat dari baiknya kualitas budaya literasi suatu masyarakat harus terus disemarakkan agar dapat memberi kesadaran terhadapnya tentang hal-hal yang telah disinggung di atas, sehingga pada praktiknya sebuah pemerintahan akan mendapatkan sistem pengawasan langsung dari warganya yang sudah dibuat sadar akan hak-hak dasarnya sebagai warga negara.
Di tengah budaya literasi Indonesia yang masih rendah, ditambah dengan semakin tergerusnya budaya membaca buku akibat dari perpindahan tren masyarakat sekarang yang lebih memilih media sosial dengan video-video pendeknya dan bermacam tindakan represif yang telah dialami. Perpustakaan Jalaan akan tetap terus ada, berlipat ganda, dan tidak akan pernah bisa redup sampai kapanpun. Matikan TV, Mulailah Membaca, atau dalam konteks hari ini; Matikan Ponsel, Mulailah Membaca!”